Selainitu, maksud dari orang-orang yang berilmu adalah mereka yang memanfaatkan serta mengamalkan ilmunya dengan benar. Menurut Abu Hayyan, ayat di atas memberi isyarat, kesempurnaan manusia itu terbatasi hanya pada dua maksud, yakni ilmu dan amal. Jadi, antara ilmu dan perbuatan itu harus sesuai. Sebab, puncaknya ilmu itu adalah amal. Ketika ingin amal yang diperbuat bisa bermanfaat maka, harus disertai dengan ilmu.
Oleh Muhammad Syafii Kudo ISLAM adalah agama wahyu yang sangat menjunjung tinggi kedudukan ilmu dan yang terkait dengannya seperti para penempuhnya Tholabul Ilm maupun pengajarnya Aalim. Allah Swt berfirman, شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ “Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan yang demikian itu. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” QS. Ali Imran 18. DI dalam ayat tersebut Allah Swt memulai kesaksian dengan Diri Nya, diikuti dengan para malaikat Nya lalu seterusnya dengan ahli ilmu. Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan ilmu dan para ahli ilmu di sisi Allah Swt. Dalam beberapa hadis yang masyhur juga dijelaskan bagaimana mulianya kedudukan ahli ilmu dalam pandangan Islam. Rasulullah Saw bersabda, العلماء ورثۃ الأنبياء “Para ulama adalah pewaris para Nabi.” HR. Bukhari. Beliau Saw juga bersabda, فضل العالم علی العابد كفضلي علی أدنكم رجلاً “Keutamaan orang alim atas seorang abid ibarat kelebihanku atas orang yang terbawah di kalangan kamu.” HR. Thobroni. Kedudukan ilmu di dalam Islam memang sangat vital bahkan merupakan fardhu Ain bagi tiap Muslim untuk mencarinya. Hal ini seperti yang termaktub di dalam beberapa riwayat hadis. Rasulullah SAW bersabda, طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة,و طالب العلم يستغفر له كل شيء حتى الحوت في البحر “Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap orang Islam laki-laki dan perempuan. Orang yang mencari ilmu itu akan dimintakan ampun oleh setiap sesuatu yang ada di muka bumi ini sampai ikan-ikan yang berada di lautan”.HR. Thobroni. Bahkan saking tegasnya Islam dalam memposisikan kedudukan ilmu hingga dikatakan bahwasannya manusia itu dibagi menjadi dua golongan saja yakni orang yang mengajarkan ilmu dan yang belajar ilmu. Di luar kedua golongan itu adalah kelompok yang tidak dianggap. Rasulullah Saw bersabda, النّاس رجلان عالم و متعلم وساءر هم همج “Manusia itu ada dua golongan ; Orang alim dan penuntut ilmu, lain dari mereka adalah golongan yang hina-dina.” Keutamaan ilmu juga dapat dilihat dalam kisah burung Hud-hud ketika ditanya oleh Nabi Sulaiman As. Hud-hud hanyalah seekor burung kerdil di hadapan Nabi Sulaiman As yang berderajat tinggi lagi gagah perkasa. Namun dengan kemuliaan ilmu, sedikit pun Hud-hud tak gentar dengan ancaman Nabi Sulaiman As, bahkan dengan tenang dia menjawab, فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. “QS. An-Naml 22. Ini adalah bukti bahwa ilmu adalah ruh di dalam Islam yang tanpanya hukum-hukum Allah tentu tidak akan bisa diketahui dan dijalankan. Bahkan disebutkan secara tegas bahwa mencari ilmu adalah sebuah kemuliaan. Adabul Muridin Lil Imam An Najeeb Dhiya’uddin As Suhrawardiy, Terj. Hal 31 Bab Fadhilah Ilmu. Rasulullah Saw menjelaskan bahwasannya dunia dan seisinya itu terlaknat kecuali pada beberapa hal, seperti yang tertera di dalam hadis, أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَـا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَـافِيْـهَـا إِلاَّ ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالاَهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَـلِّـمٌ . “Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, seorang alim, dan seorang yang menuntut ilmu.” Hadits hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi. Ilmu juga menjadi tolak ukur seseorang apakah dikehendaki menjadi baik atau buruk oleh Allah Swt. Tentu ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang bisa menghantarkan seorang hamba untuk mengenal akan Rabb nya yaitu ilmu agama Islam. Rasulullah Saw bersabda, مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ “Barangsiapa dikehendaki Allah mendapat kebaikan, maka akan dipahamkan ia dalam masalah agama.” HR. Bukhari. Dipahamkan dalam hal ini maksudnya adalah dipahamkan dalam masalah ilmu agama baik yang diperolah secara kasbi proses belajar pada guru dan membaca kitab maupun secara wahby pemberian langsung dari Allah alias Ladunni. Bahaya Ilmu Yang Tidak Bermanfaat Dalam pandangan Islam secara garis besar ilmu itu dibagi menjadi dua yakni ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat. Di dalam pembukaan kitab Ayyuhal Walad karya Imam Ghazali Rhm. diceritakan bagaimana murid beliau menuliskan keluhannya kepada Imam Ghazali. Sang murid yang sudah belajar lama dan berkhidmah kepada Imam Ghozali itu sudah menguasai berbagai ilmu yang detail yang tidak bisa dikuasai oleh orang awam dan dia pun memiliki kekuatan jiwa yang sudah teruji. Namun sang murid suatu saat bertafakur dan merenungi keadaan dirinya, dia khawatir akan keadaan dirinya. Dia berkata,” Sungguh aku telah membaca bermacam-macam ilmu dan telah kucurahkan umurku untuk belajar dan menghasilkan ilmu, saat ini yang selayaknya aku ketahui adalah, ilmu yang mana yang bermanfaat bagiku, serta menjadi penghiburku di dalam kuburku, dan ilmu mana yang tidak bermanfaat bagiku sehingga akan kami tinggalkan, seperti saّbda Nabi Muhammad Saw, اللهمّا إنّي أعوذ بك منۡ علۡم لا ينۡفعۡ “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” Mengapa murid Imam Ghozali yang sudah menjadi ulama dan menguasai berbagai ilmu termasuk yang tidak bisa dikuasai oleh orang awam itu masih memiliki kekhawatiran sedemikian rupa? Alasannya adalah karena dia takut kepada ancaman Allah Swt, sebab disebutkan di dalam hadis bahwa Rasulullah Saw bersabda, اشدُّ النَّس عذاباً يوم القيامۃ عالمٌ لمۡ ينفعۡه اﷲ بعلمه “Manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah ahli ilmu yang Allah tidak memberi manfaat atas ilmunya.” HR. Baihaqi. Jika timbul pertanyaan di benak kita bagaimana bisa seseorang yang dikatakan ahli ilmu malah disiksa paling keras oleb Allah Swt? Jawabannya adalah karena dia tidak mengamalkan ilmunya atau ilmunya tidak bermanfaat atau bisa pula dia memakai ilmunya itu untuk mendurhakai Allah Swt dengan jalan menyesatkan manusia dsb. Rasulullah Saw bersabda, من ازداد علما ولم يزدد هدى لم يزدد من الله الا بعدا “Barangsiapa yang bertambah ilmunya dan tidak bertambah petunjuk baginya maka tidak bertambah kepadanya kecuali makin jauh dari Allah.” Makin jauh di sini artinya adalah jauh dari rahmat Allah dan bukan maksudnya semakin jauh secara fisik sebab Allah tidak boleh disifati dengan sifat makhluk Tajsim dan Tasybih karena Allah berbeda dengan makhluk. Dan juga Allah tidak butuh kepada arah dan tempat serta ruang dan waktu. Beliau Saw juga bersabda, العلم علمان علم على اللسان فذلك حجة الله تعالى على خلقه، وعلم في القلب فذلك العلم النافع “llmu pengetahuan itu ada dua ilmu pada lisan, yaitu ilmu yang menjadi alasan bagi Allah atas makhluk-Nya dan ilmu pada hati, yaitu ilmu yang bermanfa’at”HR. Tirmidzi. Ilmu yang tidak bermanfaat bisa juga muncul dikarenakan salah dalam niat ketika mencarinya. Sehingga ilmu yang didapat bukannya menjadikan bermanfaat namun malah menjadi mafsadat dan mudharat bagi pemiliknya dan orang lain. Hal ini banyak disinggung di dalam kitab-kitab yang khusus membahas masalah adab dalam mencari ilmu seperti kitab Ta’lim Al Muta’alim karya Syekh Az Zarnuji dan kitab Adabul Alim Wal Muta’alim karya Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Rasulullah Saw pernah mengingatkan perihal bahaya orang-orang yang salah niat dalam mencari ilmu dalam sabdanya, لا تتعلموا العلم لتباهوا به العلماء ولتماروا به السفهاء ولتصرفوا به وجوه الناس إليكم فمن فعل ذلك فهو في النار “Janganlah engkau mempelajari ilmu pengetahuan untuk bersombong-sombong dengan sesama orang berilmu, untuk bertengkar dengan orang-orang yang berpikiran lemah dan untuk menarik perhatian orang ramai kepadamu. Barang siapa berbuat demikian, maka dia dalam neraka” HR. Ibnu Majah. Sayyidina Umar Bin Khattab Ra berkata,”Yang paling saya takutkan atas umat ini adalah orang munafik yang berilmu.” Lalu beberapa orang berkata,”Bagaimana bisa demikian?” Sayyidina Umar Bin Khotob Ra menjawab,”Mereka berilmu di lidah saja namun tidak di hati dan perbuatan.” Beberap hadits tersebut menunjukkan betapa besarnya bahaya ilmu, yaitu ilmu yang tidak bermanfaat. Orang yang berilmu hakikatnya berada di antara dua kemungkinan. Adakalanya mereka menderita kebinasaan abadi atau bisa pula kebahagiaan abadi. Tergantung apakah dia bisa memperoleh manfaat dengan ilmunya atau ilmunya malah menjadi mafsadat baginya. Terutama bagi para ahli ilmu yang memiliki kedudukan dan pengikut di kalangan umat. Tentu fitnah mereka lebih berbahaya. Jika mereka baik maka umat akan baik dan sebaliknya jika mereka rusak maka rusak pula seluruh umat. Dikatakan di dalam sebuah kalam hikmah, اِنَّ زَلَّۃَ الۡعَالِمِ كاَ السَّفِيۡنَۃِ تَغۡرَقُ وَيَغۡرَقُ مَعَهَا خَلۡقٌ كَثِيۡرٌ “Sesungguhnya kesesatan seorang Alim itu seperti sebuah bahtera yang tenggelam. Niscaya akan ada banyak makhluk yang ikut tenggelam bersamanya.” Imam Al-Ghazali Rhm. menjelaskan di ujung bab Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dalam kitab Ihya’ Ulumudin tentang rumus penting terkait jatuh bangunnya umat. Beliau menjelaskan bahwa rakyat rusak karena penguasa rusak, penguasa rusak karena ulama rusak, dan ulama rusak karena cinta harta dan kedudukan. Artinya rusaknya ulama ahli ilmu merupakan pangkal seluruh kerusakan. Maka untuk menyelamatkan sebuah generasi haruslah menyelamatkan ilmu yang dibawa oleh para penempuh dan pengajarnya. Dan itu semua harus dimulai sejak dini saat proses awal mencari ilmu. Maka berhati-hati di dalam menuntut ilmu itu sangat penting bahkan wajib ditanamkan semenjak tahap awal proses menuntut ilmu yakni mulai dari niat, adab dan cara menuntut ilmu tersebut. Sebab baik buruknya hasil ilmu ditentukan mulai dari awal proses kala menempuhnya. Sebagai pengingat agar kita berhati-hati di dalam menata niat saat menuntut ilmu ada baiknya kita merenungkan pendapat Syekh Ibnu Atho’ilah Assakandary Ra yang menyatakan, “Perumpamaan orang yang menuntut ilmu untuk mendapatkan dunia dan kedudukan adalah seperti orang yang mengangkat kotoran dengan sendok permata. Alatnya sungguh mulia, sementara isinya teramat hina.”Latha’if Al Minan Rahasia Yang Maha Indah; Belajar Hidup Berkah Dari Kekasih Allah, Halaman 65. Wallahu A’lam Bis Showab. Murid Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan
Tuturbeliau dengan komunikatif menjelaskan kedudukan orang-orang yang berilmu. Beliau juga menyampaikan, bahwa ilmu ada dalam pemahaman beragama dan tidak akan beroleh ilmu seseorang yang tidak Allah Swt pahamkan ia akan pemahaman agama. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Allah Swt lewat firman-Nya QS Al-Mujadalah: 11
Kedudukan Orang-Orang Berilmu Syekh Habib Muhammad Ismail mengatakan bahwa medan dakwah dewasa ini menghadapi tantangan yang semakin berat. Hal ini karena akhlak buruk tumbuh dengan sangat pesat, terutama mereka yang menganut paham at-tarbiyah pendidikan beragam. Hal ini memunculkan fenomena berbahaya, seperti anak muda yang tidak mau menghormati orang yang lebih tua, orang-orang pandir yang berani melangkahi ulama, dan para pelajar yang terlibat tawuran. Mereka saling bermusuhan, melupakan persaudaraan, tidak santun, tidak mau saling memaafkan, dan tidak mau bersabar. Mereka bersikap lebih pandir dari seorang yang tidak berpendidikan sama sekali. Kini, para pelajar banyak menyelam ke dalam lumpur celaan, pertikaian, dan perkelahian. Bahkan, di antara mereka ada pelajar yang berani menentang para ulama ternama. Hal ini karena mereka tidak sadar bahwa setan sedang meniupkan api permusuhan. Mereka mengira bahwa mereka sedang melakukan sesuatu dibenarkan agama. Sungguh, seseorang yang menjadikan lidah sebagai pengontrol tingkah laku sangat disayang Tuhan. Karena itu, amal-amal berikutnya ia jadikan sebagai bahan evaluasi atas semua ucapannya. Evaluasi tersebut mencakup dua pikiran utama sebagai berikut 1. Akhlak mulia kepada sesama Muslim. Hal ini dilakukan dengan menjaga kehormatan dan menjauhkan orang lain dari hal-hal yang dapat menyakitinya, seperti pembicaraan aib yang kini kian santer terdengar. 2. Akhlak mulia kepada ulama. Hal ini dilakukan dengan menjaga nama baik mereka, mengenal dan mengakui kemampuan dan kelebihan mereka, serta menghindarkan mereka dari fitnah dan pencemaran nama baik. Poin kedua patut diperhatikan lebih mendalam. Poin pertama merupakan pendahuluan karena ulama memiliki dua hak, yaitu sebagai seorang Muslim dan sebagai seorang yang memiliki kelebihan, dalam hal ini kelebihan ilmu. Pola ini senada dengan sikap Allah SWT yang telah lebih mengutamakan kaum Muslimin dibandingkan dengan umat lain, kemudian Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu di antara kaum Muslimin. Allah SWT berfirman, “… niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” QS. Al-Mujadilah 11. Allah SWT juga berfirman, “… katakanlah, Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui’?” QS. Az-Zumar 9. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Di sisi lain, jika Allah SWT mengharamkan sesuatu, bisa jadi pengharamannya berbeda dengan sesuatu yang lain. Satu kesalahan, misalnya, bisa menarik dosa yang lebih besar dibandingkan dengan kesalahan yang lain. Hal ini dihitung berdasarkan banyaknya pelanggaran. Dengan begitu, azab dan hukuman satu dosa bisa berlipat ganda. Menzalimi diri sendiri dengan berbuat maksiat dilarang oleh agama di mana pun dan kapan pun. Akan tetapi, pengharaman ini akan lebih tegas pada bulan-bulan haram Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Mengenai pengharaman ini, Allah SWT berfirman, “Diantaranya ada empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu.” QS. At-Taubah 36. Rasulullah SAW memberikan contoh lain dalam sabda beliau, “Berzina dengan sepuluh orang wanita lebih ringan bagi seseorang daripada berzina dengan seorang wanita tetangganya. Mencuri sepuluh rumah lebih ringan baginya daripada mencuri satu rumah milik tetangganya.” HR. Ahmad, hadis sahih Allah SWT juga berfirman, “Barangsiapa mengerjakan ibadah dalam bulan-bulan itu, maka janganlah dia berkata jorok rafats, berbuat maksiat dan bertengkar dalam melakukan ibadah haji.” QS. Al-Baqarah 197. Hukuman diat karena membunuh dan menyiksa pada bulan-bulan suci tentu lebih berat. Hukuman diat karena membunuh kerabat yang masih ada hubungan darah juga lebih berat. Sungguh, orang yang menyakiti dan merendahkan kehormatan ulama telah melakukan kesalahan berat. Hal ini karena kehormatan ulama melebihi seorang Muslim biasa. Selain memiliki hak yang sama dengan seorang Muslim, ulama memiliki hak sebagai orang tua dan para pembesar. Demikian juga dengan membicarakan aib para ulama dan orang-orang yang menyampaikan risalah Alquran tentu temasuk kedalam dosa besar.
29votes, 77 comments. Ulama jaman dahulu itu membuat persatuan, sekarang malah gontok gontokan. jaman dulu ulama itu ilmu tinggi namun prakteknya &
Orang yang berilmu mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah SWT. Ilustrasi menimba ilmu agama — Pernahkah Anda mendengar bahwa orang yang berilmu atau ulama lebih utama dibandingkan ahli ibadah yang tak berilmu? Allah SWT dalam firman-Nya, mengangkat derajat orang-orang yang mempunyai ilmu. Hal ini sebagaimana penegasan surat Al Mujadilah ayat 11 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan..” Sementara itu, dalam Sunan Ad Darimi, diriwayatkan sejumlah hadits terkait dengan keutamaan orang-orang yang berilmu. Di antaranya adalah sebagai berikut Pertama, keutamaan orang berilmu seperti keutamaan Rasulullah SAW dalam konteks transfer ilmu. حَدَّثَنَا مَكْحُولٌ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ { إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ } إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَرَضِيهِ وَالنُّونَ فِي الْبَحْرِ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ الْخَيْرَ Makhul berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Keutamaan seorang yang berilmu dari seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas orang-orang yang paling rendah diantara kalian, kemudian beliau membaca surat Fathir ayat 28, "innama yakhsyallaha min 'ibadihil 'ulama`" bahwa yang takut kepada Allah dari hamba-hambaNya adalah para ulama. Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi, serta ikan di lautan selalu bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia'." Baca juga Terpikat Sholat Menjadi Alasan Mualaf Sari Sukma Masuk Islam BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini
DaftarIsi [ Sebunyikan] 1 Orang yang berilmu Pasti diangkat derajatnya oleh Allah. 1.1 Iman itu terkadang Turun dan Naik. 1.2 Naik turunnya Iaman dalam pebngertian al-qur'an. 1.2.1 Penjelasan ayat 53 Surat Yusup. 1.2.2 Keadaan Iman. 1.3 Iman Para Rasulullah adalah Teladan. 1.4 Berjuang Menegakkan Aturan Allah.
Islam adalah adalah ajaran yang berlandaskan ilmu. Segala perintah dan larangan dalam agama memiliki dasar keilmuan yang jelas dan lengkap. Setiap ibadah yang dikerjakan memiliki landasan keilmuan yang rahmatan lil alamin. Maka dari itulah, setiap muslim dituntut untuk mendasarkan segala amalanya pada keilmuan dan kedudukan Ilmu dalam IslamPengertian IlmuSecara bahasa, ilmu al-Ilm adalah lawan kata dari bodoh al-jahl. Sedangkan secara istilah, para ulama ushul memberikan pengertian ilmu adalah “Memahami sesuatu secara pasti sesuai dengan faktanya.”Contoh ilmu sesuai pengertian di atas adalah pertama, bahwa keseluruhan kullun lebih besar daripada sebagian juz’un. Kedua, bahwa setiap ciptaan makhluq pasti ada yang menciptakan khaliq. dan Ketiga, bahwa niat merupakan syarat dalam suatu ibadah. Contoh yang pertama dan kedua di atas adalah contoh ilmu yang diperoleh secara akal, sedangkan contoh yang ketiga diperoleh secara syara’ syariah.Dalam ajaran Islam, ilmu tidak dapat dipisahkan dari amal. Artinya, ilmu harus diamalkan, dan sebaliknya, suatu amalan harus didasarkan kepada ilmu. Karena itu, Sahabat Ibnu Mas’ud berkata “Ilmu bukan dengan banyaknya meriwayatkan. Sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang dipancarkan di dalam hati. Sebagian ulama yang lainnya berkata “Sesungguhnyalah ilmu adalah khasyyah rasa takut kepada Allah.” Yang dimaksud dengan hakikat ilmu dalam perkataan tersebut adalah buahnya ilmu. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt, “Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah ulama.” Fathir 28.Baca juga Nilai Kepemimpinan dalam Sholat BerjamaahKarena itulah, maka orang yang berilmu alim tapi perilakunya tidak sesuai dengan ilmu yang dimilikinya, maka orang tersebut dicap sebagai orang bodoh jahil. Nabi Yusuf berdo’a kepada Allah agar tidak terpedaya rayuan untuk berbuat maksiyat, karena itu termasuk perilaku orang-orang yang bodoh. Allah swt mengabadikan perkataannya, “Yusuf berkata, Wahai Tuhanku, penjara bagiku lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka padaku. Jika Engkau tidak memalingkan diriku dari tipu daya mereka, niscaya aku akan jatuh pada ajakan mereka, dan tentulah aku akan termasuk orang-orang yang bodoh.” Yusuf 33Kedudukan dan Keutamaan IlmuIlmu memiliki kedudukan dan keutamaan yang sangat besar dalam Islam. Karena itulah, maka wahyu yang pertama kali diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw adalah al-Quran surah al-Alaq ayat 1-5, yang berisi perintah membaca’. Bahkan perintah tersebut diulang dua kali untuk menunjukkan pentingnya aktifitas membaca, dan aktivitas tersebut harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan berulang-ulang, karena iaktifitas membaca adalah sarana utama untuk mendapatkan antara keutamaan ilmu yang disebutkan dalam al-Quran dan Hadits yaitu 1. Ilmu, bersama-sama dengan iman, merupakan salah satu dari sebab ditinggikannya derajat seseorang oleh Allah. Allah swt berfirman, “Niscaya Allah akan menaikkan derajat orang-orang yang beriman dari kalian, serta orang-orang yang diberi ilmu, beberapa derakat.” Al-Mujadilah 11.2. Ilmu adalah warisan para nabi, yang tidak bisa dinilai dengan dunia dan segala isinya. Sehingga, merupakan keuntungan yang besar dan sempurna bagi manusia, bila mendapatkan warisan tersebut. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka, barangsiapa mengambil warisan tersebut, berarti ia telah mengambil bagian warisan yang sempurna.” Abu Dawud dan at-Tirmidzi.3. Ilmu adalah syarat untuk mendapat kebaikan dari Allah swt. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah mendapatkan kebaikan, maka Ia akan dipahamkan oleh Allah terhadap agamanya.” Bukhari dan Muslim.4. Ilmu merupakan syarat untuk diterimanya suatu amalan. Rasulullah bersabda “Barangsiapa mengamalkan sesuatu yang tidak ada landasannya dalam urusan kami, maka amalnya tertolak.” Muslim.Disadur dari Modul Kaderisasi Sako “Pandu” Hidayatullah – Seri Sohihul Aqidah
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.". ( Q.S 25 : 73 ) " Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang
- Dalil menuntut ilmu yang sering disampaikan adalah, orang yang menuntut ilmu sama besar pahalanya dengan orang yang sedang jihad fii sabilillah berjuang di jalan Allah.Dalam agama Islam, derajat orang-orang yang berilmu lebih tinggi dibanding orang yang tak berilmu. Bahkan ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad Sallahu alaihi wassalam adalah Iqro’ atau artinya bacalah’.Islam juga mengajarkan Menuntut ilmu itu dimulai sejak lahir hingga ke liang lahat’. Ada ungkapan Arab yang menyebut Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’.Manusia sebagai khalifah di muka bumi, kita membutuhkan ilmu untuk menegakkan syariat Allah Subhanahu wata’ala. Demikian juga sebagai hamba, membutuhkan ilmu memadai agar bisa jadi hamba abid yang bisa menjadi khalifah tanpa ilmu pengetahuan yang cukup untuk mengelola dan merekayasa kehidupan di bumi ini sehingga bisa melaksanakan hukum-hukum Allah. Hukum Menuntut Ilmu dalam Agama Islam Berikut ini hukum menuntut ilmu-ilmu wajib seperti dilansir laman berikut ini Fardu kifayah Hukum fardu kifayah berlaku bagi ilmu yang harus ada di kalangan umat Islam, agar tidak hanya kaum di luar Islam yang menguasai ilmu ilmu kedokteran, perindustrian, ilmu falaq, ilmu komunikasi, ilmu bahasa, ilmu komputer, ilmu nuklir, dan lainnya. Fardu Ain Hukum tersebut berlaku jika ilmu yang dimaksud tidak boleh ditinggalkan oleh umat Islam dalam segala situasi dan ilmu agama Islam, ilmu mengenal Allah Subhanahu wata’ala dengan segala sifat-Nya, ilmu tata cara beribadah, dan yang terkait dengan kewajiban sebagai muslim. Dalil Menuntut Ilmu dalam Ayat-Ayat Al Quran Dalil menuntut ilmu dalam agama Islam tertera dalam banyak ayat Al-Quran, di antaranya adalah sebagai QS. Al-Mujadalah Ayat 11يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌBacaan latinnya "Yā ayyuhallażīna āmanū iżā qīla lakum tafassaḥụ fil-majālisi fafsaḥụ yafsaḥillāhu lakum, wa iżā qīlansyuzụ fansyuzụ yarfa'illāhullażīna āmanụ mingkum wallażīna ụtul-'ilma darajāt, wallāhu bimā ta'malụna khabīr"Artinya "Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu 'Berlapang-lapanglah dalam majelis', lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan 'Berdirilah kamu', berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," QS. Al-Mujadalah [58] 11.2. QS. Shad Ayat 29كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِBacaan latinnya "Kitābun anzalnāhu ilaika mubārakul liyaddabbarū āyātihī wa liyatażakkara ulul-albāb"Artinya "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran," QS. Shad [38] 29.3. QS. At-Taubah Ayat 122وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَBacaan latinnya "Wa mā kānal-mu`minụna liyanfirụ kāffah, falau lā nafara ming kulli firqatim min-hum ṭā`ifatul liyatafaqqahụ fid-dīni wa liyunżirụ qaumahum iżā raja'ū ilaihim la'allahum yaḥżaruun"Artinya "Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya," QS. At-Taubah [9] 122. Keutamaan Orang yang Menuntut Ilmu Diberi derajat yang lebih tinggiDalilnya “Dan Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” al- Mujadillah/5811Diberikan pahala yang besar di hari kiamat nantiDalilnya Dari Anas bin Malik ra. Rasulullah saw. bersabda, “Penuntut ilmu adalah penuntut rahmat, dan penuntut ilmu adalah pilar Islam dan akan diberikan pahalanya bersama para nabi.” ad-Dailami.Merupakan sedekah yang paling utamaDalilnya Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sedekah yang paling utama adalah jika seorang muslim mempelajari ilmu dan mengajarkannya kepada saudaranya sesama muslim.” Ibnu Majah.Lebih utama daripada seorang ahli ibadahDalilnya Dari Ali bin Abi Talib ra. Rasulullah saw. bersabda, “Seorang alim yang dapat mengambil manfaat dari ilmunya, lebih baik dari seribu orang ahli ibadah.” ad-Dailami.Lebih utama dari śalat seribu raka’atDalilnya Dari Abu Zarr, Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Aba Zarr, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah telah baik bagimu daripada śalat sunnah seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik daripada śalat seribu rakaat.” Ibnu Majah.Diberikan pahala seperti pahala orang yang sedang berjihad di jalan AllahDalilnya Dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah saw. bersabda, “Bepergian ketika pagi dan sore guna menuntut ilmu adalah lebih utama daripada berjihad fi sabilillah.” ad-Dailami.Mendapat naungan malaikat pembawa rahmat dan dimudahkan menuju surgaDalilnya Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda,“Tidaklah sekumpulan orang yang berkumpul di suatu rumah dari rumah-rumah masjid Allah Azza wa Jalla, mereka mempelajari kitab Allah dan mengkaji di antara mereka, melainkan malaikat mengelilingi dan menyelubungi mereka dengan rahmat, dan Allah menyebut mereka di antara orang-orang yang ada di sisi-Nya. Dan tidaklah seorang meniti suatu jalan untuk menuntut ilmu melainkan Allah memudahkan jalan baginya menuju surga,” HR. Muslim dan Ahmad.Dalil kewajiban seorang muslim menuntut ilmu, sehingga tidak semua wajib berjihad, ada pada surah at-Taubah 9122 yang artinya“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi ke medan perang. Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” - Pendidikan Penulis Yulaika RamadhaniEditor Addi M Idhom
Poinpertama merupakan pendahuluan karena ulama memiliki dua hak, yaitu sebagai seorang Muslim dan sebagai seorang yang memiliki kelebihan, dalam hal ini kelebihan ilmu.Pola ini senada dengan sikap Allah SWT yang telah lebih mengutamakan kaum Muslimin dibandingkan dengan umat lain, kemudian Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu di antara kaum Muslimin.Allah SWT berfirman, ' niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
ADA banyak keutamaan orang berilmu yang Allah SWT berikan. karena manusia merupakan makhluk yang istimewa, ia di ciptakan berbeda dengan makhluk lainnya yang ada dibumi. Allah SWT menciptkan manusia dengan memberikannya akal yang sehat. Oleh karena itu Allah mewajibkan bagi setiap manusia yang hidup untuk selalu menuntut ilmu. Sebab Allah berikan beberapa keutamaan orang yang berilmu. Ilmu merupakan pengetahuan atau sebuah kepandaian yang dimiliki oleh manusia, baik mengenai ilmu pengetahuan dunia maupun ilmu pengetahuan akhirat. Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap manusia, terutama umat muslim. Seperti yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah ﷺ “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim baik muslimin maupun muslimah.” HR. Ibnu Majah Memiliki ilmu pengetahuan sangatlah penting bagi setiap umat muslim, sebab Allah menjanjikan banyak keutamaan orang berilmu, salah satunya Allah akan mengangkat drajatnya. Ilmu juga merupakan salah satu kunci sukses dalam kehidupan manusia, sebab orang yang tidak memiliki ilmu baik pengetahuan umum maupun agama, maka hidup orang tersebut seperti tanpa arah tujuan dan ia berada dalam kegelapan atau kejahiliyahan. BACA JUGA Keutamaan Mencetak Generasi Rabbani Berikut ada lima keutamaan orang yang berilmu yang perlu diketahui oleh setiap muslim. Keutamaan Orang Berilmu Akan Dimudahkan Jalan Menuju Surga Foto Unsplas Diantara keutamaan orang berilmu yang pertama Allah SWT akan memudahkan ia menuju jalan ke surga. Dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ telah bersabda “Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah SWT akan memudahkannya jalan menuju syurga.” HR. Muslim Penjelasan hadits tersebut bahwa pada dasarnya orang yang berilmu sangatlah penting bagi kehidupan baik dunia maupun akhirat. Allah SWT juga menjanjikan surga bagi orang-orang yang memiliki ilmu, sebab dengan ilmu kita tahu bagaimana cara beribadah yang benar sesuai syariat dan hukum islam. 2 Keutamaan Orang Berilmu Dapat Memiliki Pahala yang Mengalir Foto Unsplash Keutmaan orang berilmu selanjutnya ia akan mendapatkan pahala yang terus mengalir tanpa henti. Seperti dalam hadits, Rasulullah ﷺ telah bersabda “Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya, kecuali tiga hal. Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shaleh atau shalehah.” HR. Muslim Maksudnya, Allah SWT akan memudahkan jalan menuju surga bagi orang-orang yang memberikan ilmu kebaikan kepada orang lain. Kelak ilmu tersebut akan memberikan pahala yang terus mengalir kepada seseorang yang sudah mengajarkanya meski ia sudah meninggal dunia. 3 Keutamaan Orang Berilmu Selalu Takut Kepada Allah SWT Foto Unsplash Keutamaan orang berilmu selanjutnya telah dijelaskan dalam Alquran surat Fatir ayat 28. “dan demikian pula diantara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya dan jenisnya. Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah ulama. Sungguh, Allah SWT Maha perkasa, Maha pengampun.” BACA JUGA 5 Kedudukan Seorang Guru Menurut Islam Penjelasan ayat diatas ialah orang-orang yang berilmu akan senantiasa takut melakukan hal perbuatan yang mengandung dosa. Dengan ilmu pula seseorang akan lebih paham bagaiaman hidup di dunia ini diciptakan dan mendalami sebuah pengetahuan yang berkaitan dengan kekuasaan Allah SWT sebagai sang Maha pencipta seluruh alam. 4 Keutamaan Orang Berilmu Diangkat Drajatnya oleh Allah SWT Foto usplash Orang yang memiliki ilmu memiliki keutamaan akan tinggi drajatnya baik di mata masyarakat maupun di mata Allah SWT. Allah SWT telah berfirman “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “ Berilah kelapangan di dalam mejlis-mejlis,” maka berdirilah, niscaya Allah SWT akan mengangkat drajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa drajat. Dan Allah SWT Maha mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan,” QS. Al-Mujadalah 58 Dalam penggalan ayat tersebut telah dijelaskan bahwasanya Allah menjanjikan kepada hambanya yang berilmu bukan hanya masuk surga melainkan ia juga akan di tinggikan drajatnya baik dihadapan Allah maupun di hadapan manusia lainya. 5 Keutamaan Orang Berilmu Diberikan Kebaikan dan Karunia Allah SWT Foto Unsplash Keutamaan orang berilmu lainya ia akan senantiasa diberikan kebaikan-kebaikan dan karunia oleh Allah SWT, seperti dalam hadits dikatakan “Barang siapa yang Allah kehendaki mendapatkan ssemua kebaikan, Niscaya Allah akan memahamkan dia tentang ilmu agama.” HR. Bukhari Muslim Dan dalam firman Allah SWT “Allah berikan Al-Hikmah Ilmu pengetahuan, hukum, filsafat, dan kearifan kepada siapa saja yang dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi Al-Hikmah itu, sungguh ia telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang barakallah yang dapat mengambil pelajaran berdzikir dari firman-firman Allah.” QS. Al-Baqarah 269 [] SUMBER
Kaitandengan ayat ini, Ibnu 'Abbas menambahkan, "Orang-orang yang berilmu memiliki kedudukan tujuh ratus derajat di atas orang-orang mukmin.". Sebab, keunggulan mereka salah satunya karena takut kepada Allah, Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang yang berilmu (ulama), (Surat Fathir ayat 28). Tak
Banyak ayat-ayat al-Quran yang membahas dan menjelaskan tentang kedudukan orang yang beriman dan kedudukan orang yang berilmu di dalam Islam. Peranan ilmu dalam Islam sangat penting sekali. Karena tanpa ilmu, maka seorang yang mengaku mukmin, tidak akan sempurna bahkan tidak benar dalam keimanannnya. Seorang muslim wajib mempunyai ilmu untuk mengenal berbagai pengetahuan tentang Islam baik itu menyangkut aqidah, adab, ibadah, akhlak, muamalah, dan sebagainya. Dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman ilmu yang benar, maka diharapkan pengamalannya akan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Mujadalah [58] ayat 11 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tafsir Singkat al-Jalalain Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, “Berlapang-lapanglah berluas-luaslah dalam majelis” yaitu majelis tempat Nabi saw. berada, dan majelis zikir sehingga orang-orang yang datang kepada kalian dapat tempat duduk. Menurut suatu qiraat lafal al-majaalis dibaca al-majlis dalam bentuk mufrad maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian di surga nanti. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kalian” untuk melakukan shalat dan hal-hal lainnya yang termasuk amal-amal kebaikan maka berdirilah menurut qiraat lainnya kedua-duanya dibaca fansyuzuu dengan memakai harakat damah pada huruf Syinnya niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian karena ketaatannya dalam hal tersebut dan Dia meninggikan pula orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat di surga nanti. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Penjelasan Global Sebab turunnya ayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Muqatil bin Hibban, ia berkata, “Pada suatu hari, yaitu hari jumat, Rasulullah SAW. berada di Suffah mengadakan pertemuan di suatu tempat yang sempit, dengan maksud menghormati pahlawan-pahlawan perang Badar yang terdiri dari orang-orang Muhajirin dan Anshar. Beberapa orang pahlawan perang Badar itu terlambat datang di antaranya Sabit bin Qais. Para pahlawan Badar itu berdiri di luar yang kelihatan oleh Rasulullah mereka mengucapkan salam, “Assalamu’ alaikum Ayyuhan Nabiyyu warahatullahi wabarakatuh”, Nabi SAW. menjawab salam, kemudian mereka mengucapkan salam pula kepada orang-orang yang hadir lebih dahulu dan dijawab pula oleh mereka. Para pahlawan Badar itu tetap berdiri, menunggu tempat yang disediakan bagi mereka, tetapi tidak ada yang menyediakannya. Melihat itu Rasulullah SAW. merasa kecewa, lalu mengatakan, “berdirilah, berdirilah”. Berapa orang yang ada di sekitar itu berdiri, tetapi dengan rasa enggan yang terlihat di wajah mereka. Maka orang-orang munafik memberikan reaksi dengan maksud mencela Nabi SAW. mereka berkata, “Demi Allah, Muhammad tidak adil, ada orang yang dahulu datang dengan maksud memperoleh tempat duduk di dekatnya, tetapi di suruh berdiri agar tempat itu diberikan kepada orang yang terlambat datang.” Maka turunlah ayat ini. Dari ayat ini dapat dipahami Para sahabat berlomba-lomba mencari tempat dekat Rasulullah agar mudah mendengar perkataan beliau yang beliau sampaikan kepada mereka. Perintah memberikan tempat kepada orang yang baru datang, adalah merupakan anjuran, sekiranya hal ini mungkin dilakukan, untuk menimbulkan rasa persahabatan antara sesama yang hadir. Sesungguhnya tiap-tiap orang yang memberikan kelapangan kepada hamba Allah dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka Allah akan memberi kelapangan pula kepadanya di dunia dan di akhirat nanti. Memberi kelapangan kepada sesama muslim dalam pergaulan dan usaha mencari kebaikan, berusaha menyenangkan hati saudara-saudaranya, memberi pertolongan dan sebagainya termasuk yang dianjurkan Rasulullah SAW. Beliau bersabda “Allah selalu menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” HR. Bukhari dan Muslim Ayat ini menerangkan bahwa jika kamu disuruh Rasulullah SAW. berdiri untuk memberikan kesempatan kepada orang tertentu agar ia dapat duduk atau kamu disuruh pergi dahulu hendaknya kamu berdiri atau pergi, karena ia ingin memberikan penghormatan kepada orang-orang itu atau karena ia ingin menyendiri untuk memikirkan urusan-urusan agama, atau melaksanakan tugas-tugas yang perlu diselesaikan dengan segera. Berdasarkan ayat ini para ulama berpendapat bahwa orang-orang yang hadir dalam suatu majelis hendaklah mematuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam majelis itu atau mematuhi perintah orang-orang yang mengatur majelis itu. Jika dipelajari maksud ayat di atas ada suatu ketetapan yang ditentukan ayat ini, yaitu agar orang-orang menghadiri suatu majelis baik yang datang pada waktunya atau yang terlambat itu, selalu menjaga suasana yang baik, penuh persaudaraan dan saling bertenggang rasa dalam majelis itu. Bagi yang terdahulu datang hendaklah memenuhi tempat yang agak di muka, sehingga orang yang datang kemudian tidak perlu melangkahi atau mengganggu orang yang telah terdahulu hadir dan bagi orang yang terlambat datang hendaklah merasa rela dengan keadaan yang ditemuinya, seperti tidak dapat tempat duduk. Inilah yang dimaksud dengan sabda Nabi SAW. لا يقم الرجل من مجلسه ولكن تفسحوا وتوسعوا Janganlah seseorang menyuruh berdiri, dari tempat-tempat duduk temannya yang lain, tetapi hendaklah ia mengatakan lapangkanlah atau geserlah sedikit. HR. Bukhari Muslim dll. Akhir ayat ini menerangkan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman, yang taat dan patuh kepada-Nya, melaksanakan perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, berusaha menciptakan suasana damai, aman dan tenteram dalam masyarakat, demikian pula orang-orang yang berilmu yang menggunakan ilmunya untuk menegakkan kalimat Allah. Dari ayat ini dipahami bahwa orang-orang yang mempunyai derajat yang paling tinggi di sisi Allah ialah orang yang beriman, berilmu dan ilmunya itu diamalkan sesuai dengan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Allah SWT menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang dilakukan manusia, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya, siapa yang durhaka kepada-Nya. Dia akan memberi balasan yang adil, sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya. Perbuatan baik akan dibalas dengan surga dan perbuatan jahat dan terlarang akan dibalas dengan azab neraka. Sedangkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan sebagai berikut Allah Ta’ala akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Maksudnya, janganlah kalian berkeyakinan bahwa jika salah seorang di antara kalian memberi kelapangan kepada saudaranya, baik yang datang maupun yang akan pergi lalu dia keluar, maka akan mengurangi hak-nya. Bahkan hal itu merupakan ketinggian dan perolehan martabat di sisi Allah. Dan Allah Ta’ala tidak menyia-nyiakan hal tersebut, bahkan Dia akan memberikan balasan kepadanya di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya orang yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya dan akan memasyhurkan namanya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abuth Thufail Amir bin Watsilah, bahwa Nafi’ bin Abdil Harits pernah bertemu dengan Umar bin al-Khaththab di Asafan. Umar mengangkatnya menjadi pemimpin Makkah lalu Umar berkata kepadanya “Siapakah yang engkau angkat sebagai khalifah atas penduduk lembah?” la menjawab “Yang aku angkat sebagai khalifah atas mereka adalah Ibnu Abzi, salah seorang budak kami yang telah merdeka.” Maka Umar bertanya “Benar engkau telah mengangkat seorang mantan budak sebagai pemimpin mereka?” Dia pun berkata “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia adalah seorang yang ahli membaca Kitabullah al-Qur-an, memahami ilmu fara-idh dan pandai berkisah.” Lalu Umar berkata “Sesungguhnya Nabi kalian telah bersabda “Sesungguhnya Allah mengangkat suatu kaum karena Kitab ini al-Qur-an dan merendahkan dengannya sebagian lainnya.” *** Referensi Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq Al-Sheikh, Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir Program Harf The Holy Quran
Orangyang memiliki ilmu memiliki keutamaan akan tinggi drajatnya baik di mata masyarakat maupun di mata Allah SWT. Allah SWT telah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman!
Syekh Habib Muhammad Ismail mengatakan bahwa medan dakwah dewasa ini menghadapi tantangan yang semakin berat. Hal ini karena akhlak buruk tumbuh dengan sangat pesat, terutama mereka yang menganut paham at-tarbiyah pendidikan beragam.Hal ini memunculkan fenomena berbahaya, seperti anak muda yang tidak mau menghormati orang yang lebih tua, orang-orang pandir yang berani melangkahi ulama, dan para pelajar yang terlibat tawuran. Mereka saling bermusuhan, melupakan persaudaraan, tidak santun, tidak mau saling memaafkan, dan tidak mau bersabar. Mereka bersikap lebih pandir dari seorang yang tidak berpendidikan sama sekali. Kini, para pelajar banyak menyelam ke dalam lumpur celaan, pertikaian, dan perkelahian. Bahkan, di antara mereka ada pelajar yang berani menentang para ulama ternama. Hal ini karena mereka tidak sadar bahwa setan sedang meniupkan api permusuhan. Mereka mengira bahwa mereka sedang melakukan sesuatu dibenarkan seseorang yang menjadikan lidah sebagai pengontrol tingkah laku sangat disayang Tuhan. Karena itu, amal-amal berikutnya ia jadikan sebagai bahan evaluasi atas semua tersebut mencakup dua pikiran utama sebagai berikut1. Akhlak mulia kepada sesama Muslim. Hal ini dilakukan dengan menjaga kehormatan dan menjauhkan orang lain dari hal-hal yang dapat menyakitinya, seperti pembicaraan aib yang kini kian santer Akhlak mulia kepada ulama. Hal ini dilakukan dengan menjaga nama baik mereka, mengenal dan mengakui kemampuan dan kelebihan mereka, serta menghindarkan mereka dari fitnah dan pencemaran nama kedua patut diperhatikan lebih mendalam. Poin pertama merupakan pendahuluan karena ulama memiliki dua hak, yaitu sebagai seorang Muslim dan sebagai seorang yang memiliki kelebihan, dalam hal ini kelebihan ini senada dengan sikap Allah SWT yang telah lebih mengutamakan kaum Muslimin dibandingkan dengan umat lain, kemudian Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu di antara kaum SWT berfirman, "... niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." QS. Al-Mujadilah 11.Allah SWT juga berfirman, "... katakanlah, Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui’?" QS. Az-Zumar 9.
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. al-Mujadilah: 11) Benar-benar mulia kedudukan orang yang berilmu dalam Islam. Bagi orang berilmu, Allah juga telah mempersiapkan surga. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Saw: "Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR.
xkZg. 8atfauf6c7.pages.dev/6808atfauf6c7.pages.dev/6658atfauf6c7.pages.dev/3128atfauf6c7.pages.dev/478atfauf6c7.pages.dev/8848atfauf6c7.pages.dev/218atfauf6c7.pages.dev/1278atfauf6c7.pages.dev/9968atfauf6c7.pages.dev/1558atfauf6c7.pages.dev/5288atfauf6c7.pages.dev/858atfauf6c7.pages.dev/5578atfauf6c7.pages.dev/2398atfauf6c7.pages.dev/7008atfauf6c7.pages.dev/56
kedudukan orang yang berilmu