PandanganHabib Abdul Qodir Yaman terhadap KH Abdul Hamid Pasuruan- KH Abdul Hamid Pasuruan atau kerap disapa Mbah Hamid, adalah seorang ulama dari Rembang, Jawa Tengah. Meski lahir di Rembang, ia menghabiskan hidupnya di Pasuruan, Jawa Timur hingga dikenal sebagai KH Abdul Hamid Pasuruan. KH Abdul Hamid adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah di dikenal sebagai sosok ulama yang sangat sabar, KH Abdul Hamid juga dipercaya memiliki karomah wali. Berikut biografi singkat KH Abdul Hamid Pasuruan. Baca juga Biografi Gus Miek, Ulama yang Memiliki Karomah WaliMemiliki nama asli Abdul Mu'thi KH Abdul Hamid lahir pada 22 November 1914 di Desa Sumber Girang, Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Ia lahir dengan nama Abdul Mu'thi, dan kerap dipanggil dengan "dul" saja. Ketika kecil, KH Abdul belajar mengaji kepada dua ulama besar di Lasem, yakni KH Ma'shum dan Kh Baidhawi. Di samping itu, ia memiliki hobi bermain sepak bola, yang sempat membuat sang ayah khawatir karena waktu mengajinya berkurang. Sejak kecil KH Abdul diyakini menunjukkan tanda-tanda sebagai wali atau kekasih Allah karena memiliki banyak karomah atau kelebihan yang sulit dijangkau akal. HaulKH Abdul Hamid Pasuruan ke 38. KH Abdul Hamid Biografi KH Abdul Hamid KH. Abdul hamid Lahir pada tahun 1333 H, di Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang Tiga tahun kemudian, cucu kesayangan itu mulai pisah dari orangtua, untuk menimba ilmu di pesantren kakeknya, KH. Shiddiq, di Talangsari, Jember, Jawa Timur. - Kenali Kyai Hamid Dan Keturunan Kyai Hamid Pasuruan! Anda pastinya telah melakukan banyak hal dari pagi hingga malam. Namun, masih ada hal lain yang ternyata perlu Anda lakukan. Tentu saja, melakukan kegiatan yang berguna dengan membaca kisah dari beberapa tokoh besar yang mempunyai peran penting. Hal ini dapat membuat Anda ikut termotivasi untuk beragam hal yang sempurna. Tidak hanya tokoh perjuangan kemerdekaan saja yang mempunyai peran penting dalam beragam macam hal. Yang berjuang dalam agama juga menjadi tokoh yang harus Anda ketahui dengan baik. Apalagi untuk beberapa orang yang belum mendapatkan pencerahan dari segi meneladani tokoh yang ada. Salah satunya adalah Kyai Haji Abdul Hamid yang dikenal dengan akhlak mulianya. simak juga tentang amalan Kyai Hamid Pasuruanketurunan Kyai Hamid PasuruanBiografi Kyai Haji Abdul Hamid Sebelum mengenal lebih banyak hal lagi mengenai keturunan Kyai Hamid Pasuruan. Maka, hal yang harus Anda kenali lebih dulu adalah ayahnya. Penting sekali halnya untuk tau beragam kisah menarik mengenai Kyai Hamid yang dipercaya sebagai wali Allah. Abdul Hamid bukan merupakan nama aslinya. Pria kelahiran bulan November ini juga bukan berasal dari Pasuruan. Memang benar halnya kalau ada banyak orang yang mengenalnya dengan nama belakang Pasuruan. Namun, bukan berarti ia adalah salah satu orang yang berasal dari Pasuruan. Nama ini dikenal dengan baik karena ada banyak kegiatan agama yang ia lakukan di tempat ini. Tentu saja, Kyai Hamid lahir di Jawa Tengah. Lebih tepatnya pada desa Dukuh Sumurkepel yang berlokasi di Desa Sumber Gerang. Ia lahir pada tanggal 22 November 1914 dimana Indonesia masih menjadi kekuasaan negara Belanda. Nama aslinya adalah Abdul Mu'thi yang merupakan putra dari pasangan terhormat. Banyak orang yang merasa segan dengan ayah dan juga ibunya. Keduanya merupakan bagian dari keluarga ulama. Ayahnya sendiri adalah Kyai Haji Abdullah bin Kyai Haji Umar. Lalu, ibunya sendiri adalah Nyai Raihanah binti Kyai Haji Shiddiq. Tentunya, tidak ada orang yang menyangka kalau ia akan tumbuh dewasa menjadi seseorang berakhlak mulia. Apalagi jika mengingat masa kecil yang terkenal akan kenakalannya. Ia juga mempunyai nama panggilan bedudul karena terlalu nakal. Banyak sekali orang yang ia isengi untuk mengisi waktu luang dimana semuanya adalah masyarakat Tionghoa. Bahkan, tidak jarang ia harus menyamar sebagai seorang wanita hanya untuk bersembunyi saja. Cerita menarik ini sangat penting untuk Anda baca sebelum tau beberapa keturunan kyai Hamid Pasuruan sendiri. Ia tidak hanya suka menganggu orang lainnya dalam beragam macam hal. Ia juga suka bermain dan tidak pernah berada di rumah. Kapanpun ada orang yang ingin bertemu dengan Abdul Mu'thi ini. Pastinya, tidak perlu datang ke rumahnya. Ia sudah pasti sedang bermain sepak bola atau layang-layang. Karena kenakalannya ini, pada usia 12 tahun, ia dikirim ke pesantren. Pondok pesantren Kasingan menjadi tempatnya untuk belajar agama dan mengurangi kenakalan. Lalu, pindah ke pesantren Tremas karena mempunyai kualitas yang lebih baik. Sekitar usia lima belas tahun, ia kemudian menunaikan ibadah haji karena diajak oleh kakeknya. Ia mendapatkan pengalaman berjumpa dengan Rasulullah sehingga kakeknya segera menjodohkannya dengan Nafisah. Perjodohan ini tidak langusng menikah. Ia masih melanjutkan banyak perjalanan agama dalam pesantren ini hingga mengisi pengajian. Ada total 12 tahun yang membuat pembelajaran agamanya tidak perlu diragukan. Kehidupan Pernikahan Kyai Hamid Pasuruan Saat memutuskan untuk menikahi Nafisah pada umur kedua puluh dua tahun, status Kyai Hamid sepenuhnya berubah. Tentu saja, meski keturunan Kyai Hamid Pasuruan masih belum ada, ia telah menjadi seorang kepala rumah tangga untuk istrinya. Kehidupan yang ia jalani bersama istrinya tentunya bukanlah hal yang mudah. Anda salah saat berpikir bahwa mereka akan hidup berkecukupan dan bahagia. Hal ini dikarenakan Mbah Hamid harus menghadapi kerasnya mencari nafkah untuk istrinya. Hal ini dapat Anda buktikan melalui suatu kejadian yang pastinya pernah terlintas di telinga Anda. Benar sekali, hal tersebut adalah mengayuh sepeda sejauh 30 kilometer setiap harinya. Jarak ini tentunya bukanlah jarak yang terbilang dekat. Sebaliknya, semua dari Anda tentunya akan merasa lelah saat menempuh jarak sejauh itu hanya dengan sepeda. Kyai hamid yang saat itu tinggal di rumah pamannya juga harus hidup jauh dari kemewahan. Hal ini dikarenakan yang ada hanya rumah yang sederhana dan hidup yang sederhana pula. Akan tetapi, ia tetap sabar dan tidak mengeluh. Selain ujian dari ekonomi, ada hal lain yang membuat tokoh dengan nama kecil bedudul ini harus tetap sabar. Benar sekali, hal tersebut adalah sikap istrinya pada dua tahun pernikahan yang tidak menurut. Istrinya kerap kali melawan dan bersikap yang tidak sepantasnya hingga akhirnya keturunan Kyai Hamid Pasuruan yang pertama lahir. Akan tetapi, ujian kembali datang saat anak pertamanya lahir ke dunia ini. Beberapa dari Anda tentunya mengetahui ujian yang dihadapi oleh tokoh ini. Jelas saja, hal ini dapat terjadi mengingat tokoh ini merupakan salah satu ulama terkenal dalam bidang agama. Inilah Keturunan Kyai Hamid Pasuruan Benar sekali, cobaan kali ini merupakan cobaan yang sangat berat mengingat tokoh dengan nama lahir Abdul Mu'thi ini harus merelakan anaknya. Benar sekali, anak pertama yang diberikan nama Anas ini meninggal dunia. Hal ini tentunya memberikan guncangan yang besar pula pada istrinya Nafisah. Ia terus merasa sedih hingga Kyai Hamid mengajaknya liburan ke Bali untuk melupakan rasa sedih. Akan tetapi, ujian yang sama kembali dihadapi oleh mereka saat merawat anak keduanya. Anak yang diberikan nama Zainab berpulang ke pangkuannya dalam usia yang baru beberapa bulan. Hal ini tentunya jauh lebih menyakitkan mengingat anak tersebut pernah mereka rawat. Akan tetapi, Kyai Hamid dengan tegarnya kembali merelakan dan menghibur istrinya dengan merencakan perjalanan liburan berdua. Hingga akhirnya saat ini, ia dikarunia lima putra dan satu putri yang mewarnai kehidupan rumah tangganya. Saat ini, hanya tersisa tiga yang masih hidup. Benar sekali, ketiga anak tersebut adalah H. Nu'man, H. Nasikh serta H. Idris. Menurut nereka, sosok ayahnya merupakan seseorang yang sangat sabar baik dalam mendidik dan memghadapi masalah yang terus berdatangan dalam hidup ini. Hal ini dapat dibuktikan dengan pernyataan dari keturunan Kyai Hamid Pasuruan ini, mengenai ayahnya yang tidak pernah ringan tangan. Idris mengatakan bahwa Mbah Hamid tidak pernah sekalipun memukulnya meski dirinya sangat nakal. Akan tetapi, didikan yang tegas juga dilakukan agat mereka berada dalam jalan benar. simak juga tentang gus miek ceramah Beberapa hal yang ada sebelumnya merupakan hal yang harus Anda ketahui mengenai keturunan Kyai Hamid Pasuruan hingga biografinya secara singkat. Kami pastikan saat ini semua dari Anda tentunya telah mengetahui hal ini dengan baik, bukan? KiaiHamidlahir di Sumber Girang, sebuah desa di Lasem, Rembang, Jawa Tengah,pada tahun 1333 H. Ia adalah anak ketiga dari tujuh belas bersaudara,lima di antaranya saudara seibu. Kini, di antara ke 12 saudarakandungnya, tinggal dua orang yang masih hidup, yaitu Kiai Abdur Rahim,Lasem, dan Halimah.
AchmadShidiq memiliki amalan mewiridkan surat al-Fatihah selama 100 x dalam sehari, yang diteruskan oleh anak cucu dan murid-muridnya. Sebagian masyarakat memperoleh ijazah amalan ini dari jalur keturunan KH. Amalan hasbunalloh wani'mal wakil, di antara sumber pingijazahnya adalah KH. Abdul Hamid Pasuruan: ada yang dalam jumlah 450 xKH. Abdul Hamid Lahir pada tahun 1333 H, di Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang, Jawa 25 Desember 1985. Beliau adalah Kyai asal Pasuruan Jawa Timur Sejak kecil sekitar 12-13 tahun, Ayahandanya mengirimkan ke Pondok Kasingan, Rembang. Maksud ayahandanya, untuk meredam kenakalannya. Di pondok tersebut Hamid hanya mengeyam pendidikanya satu setengah tahun, kemudian beliau pindah ke Pondok Tremas, Pacitan, Pondok yang di asuh oleh KH. Dimyathi. KH Abdul Hamid adalah anak ketiga dari tujuh belas bersaudara, lima di antaranya saudara seibu. Kini, di antara ke 12 saudara kandungnya, tinggal dua orang yang masih hidup, yaitu Kiai Abdur Rahim, Lasem, dan Halimah. Sedang dari lima saudara seibunya, tiga orang masih hidup, yaitu Marhamah, Maimanah dan Nashriyah, ketiganya di Pasuruan. Kyai Hamid dibesarkan di tengah keluarga santri. Ayahnya, Kiai umar, adaiah seorang ulama di Lasem, dan ibunya adalah anak Kiai Shiddiq, juga ulama di Lasem dan meninggal di Jember, Jawa Timur. Masa Kecil Kiai Shiddiq adalah ayah KH. Machfudz Shiddiq, tokoh NU, dan KH. Ahmad Shiddiq, mantan Ro’is Am NU. Keluarga Hamid memang memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan dunia pesantren. Sebagaimana saudara-saudaranya yang lain, Hamid sejak kecil dipersiapkan untuk menjadi kiai. Anak keempat itu mula-mula belajar membaca al-Quran dari ayahnya. Pada umur sembilan tahun, ayahnya mulai mengajarinya ilmu fiqh dasar. Tiga tahun kemudian, cucu kesayangan itu mulai pisah dari orangtua, untuk menimba ilmu di pesantren kakeknya, KH. Shiddiq, di Talangsari, Jember, Jawa Timur. Konon, demikian penuturan Kiai Hasan Abdillah, Kiai Hamid sangat disayang baik oleh ayah maupun kakeknya. Semasih kecil, sudah tampak tanda-tanda bahwa ia bakal menjadi wali dan ulama besar. Sehari-hari, Hamid kecil jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang. Bahkan, Hamid kecil bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahandanya tak bisa membendung hobi itu. Menjadi Blantik Hamid menikah pada usia 22 tahun dengan sepupunya sendiri, Nyai H. Nafisah, putri KH Ahmad Qusyairi. Pasangan ini dikarunia enam anak, satu di antaranya putri. Kini tinggal tiga orang yang masih hidup, yaitu H. Nu’man, H. Nasikh dan H. Idris. Hamid menjalani masa-masa awal kehidupan berkeluarganya tidak dengan mudah. Selama beberapa tahun ia harus hidup bersama mertuanya di rumah yang jauh dari mewah. Untuk menghidupi keluarganya, tiap hari ia mengayuh sepeda sejauh 30 km pulang pergi, sebagai blantik broker sepeda. Sebab, kata ldris, pasar sepeda waktu itu ada di desa Porong, Pasuruan, 30 km ke arah barat Kotamadya Pasuruan. Kesabarannya bersama juga diuji. Hasan Abdillah menuturkan, Nafisah yang dikawinkan orangtuanya selama dua tahun tidak patut tidak mau akur. Namun ia menghadapinya dengan tabah. Kematian bayi pertama, Anas, telah mengantar mendung di rumah keluarga muda itu. Terutama bagi sang istri Nafisah yang begitu gundah, sehingga Hamid merasa perlu mengajak istrinya itu ke Bali, sebagai pelipur lara. Sekali lagi Nafisah dirundung kesusahan yang amat sangat setelah bayinya yang kedua, Zainab, meninggal dunia pula, padahal umurnya baru beberapa bulan. Lagi-lagi kiai yang bijak itu membawanya bertamasya ke tempat lain. KH. Hasan Abdillah, adik istri Kiai Hamid, menuturkan, seperti layaknya keluarga, Kiai Hamid pernah tidak disapa oleh istrinya selama empat tahun. Tapi, tak pernah sekalipun terdengar keluhan darinya. Bahkan sedemikian rupa ia dapat menutupinya sehingga tak ada orang lain yang mengetanuinya. “Uwong tuo kapan ndak digudo karo anak Utowo keluarga, ndak endang munggah derajate Orangtua kalau tidak pernah mendapat cobaan dari anak atau keluarga, ia tidak lekas naik derajatnya”, katanya suatu kali mengenai ulah seorang anaknya yang agak merepotkan. Kesabaran beliau juga diterapkan dalam mendidik anak-anaknya. Menut Idris, tidak pernah mendapat marah, apalagi pukulan dari ayahnya. Menurut ldris, ayahnya lebih banyak memberikan pendidikan lewat keteladanan. Nasihat sangat jarang diberikan. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sangat prinsip, shalat misalnya, Hamid sangat tegas. Merupakan keharusan bagi anak-anaknya untuk bangun pada saat fajar menyingsing, guna menunaikan shalat subuh, meski seringkali orang lain yang disuruh membangunkan mereka, Hamid juga memberi pengajaran membaca al-Quran dan fiqih pada anak-anaknya di masa kecil. Namun, begitu mereka menginjak remaja, Hamid lebih suka menyerahkan anak-anaknya ke pesantren lain. Baca juga “Biografi Kyai Maimun Zubair.” Bukan hanya kepada anak-anak, tapi juga istrinya, Hamid memberi pengajaran. Waktunya tidak pasti. Kitab yang diajarkan pun tidak pasti. Bahkan, ia mengajar tidak secara berurutan dari bab satu ke bab berikutnya. Pendeknya, ia seperti asal comot kitab, lalu dibuka, dan diajarkan pada istrinya. Dan lebih banyak, kata Idris, yang diajarkan adalah kitab-kitab mengenai akhlak, seperti Bidayah al-Hidayah karya Imam Ghazali, “Tampaknya yang lebih ditekankan adalah amalan, dan bukan ilmunya itu sendiri,” jelasnya. Amalan dari kitab itu pula yang ditekankan Kiai Hamid di Pesantren salafiyah. Kalau pesantren-pesantren tertentu dikenal dengan spesialisasinya dalam bidang-bidang ilmu tertentu – misainya alat gramatika bahasa Arab atau fiqh, maka salafiyah menonjol sebagai suatu lembaga untuk mencetak perilaku seorang santri yang baik. Di sini, Kiai Hamid mewajibkan para santrinya shalat berjamaah lima waktu. Sementara jadwal kegiatan pesantren lebih banyak diisi dengan kegiatan wirid yang hampir memenuhi jam aktif. Semuanya harus diikuti oleh seluruh santri. Kiai Hamid sendiri, tidak banyak mengajar, kecuali kepada santri-santri tertentu yang dipilihnya sendiri. Selain itu, khususnya di masa-masa akhir kehidupannya, ia hanya mengajar seminggu sekali, untuk umum. Mushalla pesantren dan pelatarannya setiap Ahad selalu penuh oleh pengunjung untuk mengikuti pengajian selepas salat subuh ini. Mereka tidak hanya datang dari Pasuruan, tapi juga kota-kota Malang, Jember, bahkan Banyuwangi, termasuk Walikota Malang waktu itu. Yang diajarkan adalah kitab Bidayah al-Hidayah karya al-Ghazali. Konon, dalam setiap pengajian, ia hanya membaca beberapa baris dari kitab itu. Selebihnya adalah cerita-cerita tentang ulama-ulama masa lalu sebagai teladan. Tak jarang, air matanya mengucur deras ketika bercerita. Disuguhi Kulit Roti Kiai Hamid memang sosok ulama sufi, pengagum imam Al-Ghazali dengan kitab-kitabnya lhya Ulum ad-Din dan Bidayah al-Hidayah. Tapi, corak kesufian Kiai Hamid bukanlah yang menolak dunia sama sekali. Ia, konon, memang selalu menolak diberi mobil Mercedez, tapi ia mau menumpanginya. Bangunan rumah dan perabotan-perabotannya cukup baik, meski tidak terkesan mewah. Baca juga “Biografi Gus Baha.” Ia suka berpakaian dan bersorban yang serba putih. Cara berpakaian maupun penampilannya selalu terlihat rapi, tidak kedodoran. Pilihan pakaian yang dipakai juga tidak bisa dibilang berkualitas rendah. “Berpakaianlah yang rapi dan baik. Biar saja kamu di sangka orang kaya. Siapa tahu anggapan itu merupakan doa bagimu,” katanya suatu kali kepada seorang santrinya. Namun, Kiai Hamid bukanlah orang yang suka mengumbar nafsu. Justru, kata idris, ia selalu berusaha melawan nafsu. Hasan Abdillah bercerita, suatu kali Hamid berniat untuk mengekang nafsunya dengan tidak makan nasi tirakat. Tetapi, istrinya tidak tahu itu. Kepadanya lalu disuguhkan roti. Untuk menyenangkannya, Hamid memakan roti itu, tapi tidak semuanya, melainkan kulitnya saja. “O, rupanya dia suka kulit roti,” pikir istrinya. Esoknya ia membeli roti dalam jumlah yang cukup besar, lalu menyuguhkan kepada suaminya kulitnya saja. Kiai Hamid tertawa. “Aku bukan penggemar kulit roti. Kalau aku memakannya kemarin, itu karena aku bertirakat,” ujarnya. Kisah Konon, berkali-kali Kiai Hamid ditawari mobil Mercedez oleh H. Abdul Hamid, orang kaya di Malang. Tapi, ia selalu menolaknya dengan halus. Dan untuk tidak membuatnya kecewa, Hamid mengatakan, ia akan menghubunginya sewaktu-waktu membutuhkan mobil itu. Kiai Hamid memang selalu berusaha untuk tidak mengecewakan orang lain, suatu sikap yang terbentuk dari ajaran idkhalus surur menyenangkan orang lain seperti dianjurkan Nabi. Misalnya, jika bertamu dan sedang berpuasa sunnah, ia selalu dapat menyembunyikannya kepada tuan rumah, sehingga ia tidak merasa kecewa. Selain itu, ia selalu mendatangi undangan, di manapun dan oleh siapapun. Selain terbentuk oleh ajaran idkhalus surur, sikap sosial Kiai Hamid terbentuk oleh suatu ajaran yang dipahami secara sederhana mengenai kepedulian sosial islam terhadap kaum dlu’afa yang diwujudkan dalam bentuk pemberian sedekah. Memang karikaturis – meminjam istilah Abdurrahman Wahid tentang sifatnya. Tapi, Kiai Hamid memang bukan seorang ahli ekonomi yang berpikir secara lebih makro. Walau begitu, kita dapat memperkirakan, sikap sosial Kiai Hamid bukan hanya sekadar refleksi dari motivasi keagamaan yang “egoistis”, dalam arti hanya untuk mendapat pahala, dan kemudian merasa lepas dari kewajiban. Kita mungkin dapat melihat, betapa ajaran sosial islam itu sudah membentuk tanggung jawab sosial dalam dirinya meski tidak tuntas. Ajaran Islam, tanggung jawab sosial mula-mula harus diterapkan kepada keluarga terdekat, kemudian tetangga paling dekat dan seterusnya. Urut-urutan prioritas demikian tampak pada Kiai Hamid. Kepada tetangga terdekat yang tidak mampu, konon ia juga memberikan bantuannya secara rutin, terutama bila mereka sedang mempunyai hajat, apakah itu untuk mengawinkan atau mengkhitan anaknya. H. Misykat yang mengabdi padanya hingga ia meninggal, bercerita bahwa bila ada tetangga yang sedang punya hajat, Kiai Hamid memberi uang RP. plus 10 kg. beras. Islam mengajarkan, hari raya merupakan hari di mana umat Islam dianjurkan bergembira sebagai rasa syukur setelah menunaikan lbadah puasa sebulan penuh. Menjelang hari raya, sebagai layaknya seorang ulama, Kiai Hamid tidak menerima hadiah dan zakat fitri. Pengasuh Pondok Pesantren Sekitar 1951, sepeninggal KH. Abdullah ibn Yasin yang jadi nazhir pengasuh Pondok Salafiyah, beliau dipercaya sebagai guru besar pondok, sementara KH. Aqib Yasin, adik Kiai Abdullah, menjadi nazhir. Meski demikian, secara de facto, beliaulah yang memangku pondok itu, mengurusi segala tetek bengek sehari-hari, day to day karena Kiai Aqib yang muda itu, masih belajar di Lasem. Kiai Hamid benar-benar berangkat dari titik nol dalam membina Pondok Salafiyah. Sebab, saat itu tidak ada santri. Para santri sebelumnya tidak tahan dengan disiplin tinggi yang diterapkan Kiai Abdullah. Walaupun tak ada promosi, satu demi satu santri mulai berdatangan. Prosesnya sungguh natural, tanpa rekayasa. Perkembangannya memang tidak bisa dibilang melesat cepat. Hingga kamar-kamar yang ada tidak mencukupi untuk para santri dan harus dibangun yang baru. Akhirnya, terdorong oleh perkembangan zaman, fasilitas baru pun perlu disediakan, yaitu madrasah klasikal. Berkat perkembangan pondok pesantren yang di asuh oleh beliau, akhirnya dipanggil “haji” lalu diakui sebagai “kiai”, pengakuan masyarakat semakin membesar dan membesar. Tamunya semakin lama semakin banyak. Terutama setelah wafatnya Habib Ja’far As-Segaf wali terkemuka Pasuruan waktu itu yang jadi guru spiritualnya sekitar 1954, sinarnya semakin membesar dan membesar. Pesantren beliau terkenal dengan nama Pondok Pesantren Salafiyah KH. Abdul Hamid Bin Abdullah Bin Umar , Pasuruan Jawa Timur Indonesia Dalam sebuah ceramahnya Gus Baha pernah menyapaikan beliau adalah salah satu kyai yang ikhlas. Biografi Singkat Nama KH. Abdul HamidLahir 22 November 1914 4 Muharram 1333 HWafat 25 Desember 1985 9 Rabiul Awwal 1403 HIstri NafisahNama Ayah KH. Abdullah bin KH. UmarNama Ibu Nyai Raihanah binti KH. Shiddiq Pendidikan Pondok Pesantren Talangsari, Jember;Pesantren Kasingan, Rembang, Jateng;Pondok Pesantren Termas, Pacitan, pengasuh Pesantren Salafiyah, Pasuruan Sumber KHAbdul Hamid. Mohon doa keselamatan dari semua kader NU, saat ini KH M. Nailur Rohman (Gus Amak, cucu Alm. Mbah Hamid Pasuruan) dan rombongan mendapat musibah kecelakaan tunggal di Tol Trans Jawa KM 78 dalam perjalanan pulang setelah mengikuti PKPNU Tingkat Lanjutan di Magetan menuju Pasuruan. Korban saat ini dibawa ke RSUD Bangil Pasuruan.
ProfDr H Abd Halim Soebahar MA. MEMPELAJARI keluarga KH Achmad Siddiq, akan memperolah banyak 'ibrah (pelajaran berharga). KH Achmad Siddiq nama kecilnya adalah Achmad Muhammad Hasan, lahir di Jember pada hari Ahad Legi, 24 Januari 1926 (10 Rajab 1344), atau tujuh hari sebelum kelahiran Jam ' iyyah Nahdlatul Ulama, wafat pada hari Rabu, 23
KH Abdul hamid Lahir pada tahun 1333 H, di Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah.Wafat 25 Desember 1985. tiga orang masih hidup, yaitu Marhamah, Maimanah dan Nashriyah, ketiganya di Pasuruan. Hamid dibesarkan di tengah keluarga santri. Ayahnya, Kiai umar, adaiah seorang ulama di Lasem, dan ibunya adalah anak Kiai Shiddiq, juga
Pasuruan, NU Online Jatim KH Muhammad Nailurrochman atau Gus Amak menyampaikan testimoni sosok KH Abdul Hamid Pasuruan saat Haul Masayikh bulanan yang dilaksanakan Layanan Digital untuk Nahdliyin Kamis 30/12/2021. Gus Amak merupakan salah satu cucu dari KH Abdul Hamid Pasuruan. Dalam kesempatan itu, Gus Amak menjelaskan bahwa auliya merupakan orang-orang yang berhasil mencintai Allah sekaligus dicintai Allah. “Kita untuk menunjukkan bukti cinta pada Allah saja masih sulit, apalagi mendapat respons cinta dari Allah. Maka orang-orang yang sudah dicintai Allah ini adalah sebuah maqom yang luar biasa dan butuh perjuangan mendapatkannya,” tutur Gus Amak. Lebih lanjut Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PCNU Kota Pasuruan tersebut mengatakan, Kiai Hamid merupakan sosok yang sederhana. Hal ini berdasarkan pengakuan salah satu santri Kiai Hamid, KH Ihsan Ketintang Malang. “Saya pernah sowan ke beliau Kiai Ihsan. Beliau itu buka puasa hanya dengan makan telur setengah matang, kurma, dan kopi. Saat tanya mengapa tidak berbuka dengan nasi, beliau menjawab seperti itulah cara berbuka Kiai Hamid,” ujar Kepala Pesantren Bayt Al-Hikmah Kota Pasuruan tersebut. Menurut Gus Amak, sebagaimana dituliskan dalam buku “Percik-Percik Keteladanan Kiai Hamid” karangan KH Hamid Ahmad, ciri khas dari kakeknya itu merupakan seorang yang sangat tawadhu serta alim baik secara ilmu syari`at, maupun kanuragan. “Saya menyebut dua hal ini bersandingan karena kadang seseorang yang alim itu sulit tawadhu. Ini suatu pelajaran penting bahwa tawadhu dan kehebatan itu bisa berjalan beriringan,” katanya. Disampaikannya, kitab karangan Kiai Hamid yaitu Sullam At-Taufiq telah mendapat pujian dari KH Sahal Mahfudz. Kemampuan mengarang nadham dalam kitab, merepresentasikan keilmuan Kiai Hamid dalam menguasai kitab Juman kitab balaghah. Selain itu, keistimewaan lainnya adalah keistiqamahan untuk shalat berjamaah dan mengkhatamkan Al-Qur`an setiap sepekan sekali. Hal tersebut diceritakan langsung oleh KH Idris Hamid, ayah Gus Amak. “Keistiqamahan lainnya adalah membaca surah Al-fatihah 100 kali sehari. Saya mendapat cerita dari santri beliau yang langsung mendapat ijazah ini bahwasanya yang melanggengkan membacanya, maka akan menemukan keajaiban-keajaiban yang tersembunyi,” terang Gus Amak. Sebagai tamu undangan, Gus Amak mengaku sangat mendukung adanya kegiatan haul masayikh bulanan ini. Sebab, haul yang disesuaikan bulan wafat para ulama sekaligus mengulas biografinya menjadikan masyarakat semakin mengenal kiai-kiai nusantara. It6B.